Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

Gambar
Hampir semua orang yang aku temui, pasti nanyain gini "kenapa kamu resign? kan sudah bagus posisinya, kan gajinya sudah tinggi, kan kerjanya gak terlalu berat, kan, kan, dan kan-kan yang lain".  Aku selalu jawab template "masih pengen kuliah, soalnya kalau sudah ketua-an males mau kuliah lagi" Padahal jawaban sesungguhnya adalah aku mendekatkan diri dengan mimpi dan impianku di masa depan. Dimana dalam bayanganku, aku dimasa depan akan berpenghidupan dari bisnis, seminggu dua kali aku ngajar di universitas, dan akhir pekan menikmati hari dengan keluarga kecilku. Oleh karena itu aku memilih resign, karena dengan resign di akhir 2019. Aku bisa memulai bisnis atau bahasa kerennya sekarang "start up" di bidang lingkungan, yakni Bank Sampah Hamdalah.Bisnis ini merupakan salah satu bisnis yang paling memuaskan dari beberapa perjalanan bisnisku selama ini. Selain mendapatkan uang dari kegiatan bisnis tersebut (meskipun gak banyak), aku juga dapat membantu orang u...

SERANGGA UNTUK PAKAN TERNAK MASA DEPAN, SDGs DI BIDANG PETERNAKAN

 



        Berdasarkan data dari Badan Statistik Amerika Serikat, jumlah penduduk dunia pada Januari 2018 mencapai 7,53 miliar jiwa dan Perserikatan Bangsa Bangsa atau PBB menyatakan jumlah penduduk dunia akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada tahun 2030, 9,8 miliar pada tahun 2050 dan mencapai 11,2 miliar pada tahun 2100. Untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia ini, diperlukan peningkatan produksi pangan minimal 2 kali lipat dari jumlah produksi pangan saat ini. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, karena saat ini kita telah menggunakan 70% dari lahan pertanian untuk peternakan, overfishing, pencemaran lingkungan, perubahan iklim serta penyakit-penyakit tanaman yang mengancam produktivitasnya (Girsang, 2018).

    Pola konsumsi protein hewani yang tinggi merupakan ciri pola konsumsi pangan bangsa-bangsa negara maju. Pola konsumsi protein jarang mendapatkan perhatian secara serius, bahkan makna protein sebagai sumber nutrien paling penting belum banyak dipahami. Dimensi kelaparan sebagaimana yang digambarkan oleh Indeks Kelaparan Global, bagi negara-negara berkembang dapat dipastikan sebagai akibat dari kekurangan konsumsi protein hewani (Agus Pakpahan, 2018). Girsang (2018) menyatakan bahwa, Protein mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Kekurangan protein dalam waktu lama dapat mengganggu berbagai proses dalam tubuh dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit.

Oleh karena itu bisa dipastikan dimasa yang akan datang permintaan terhadap protein hewani akan jauh meningkat. Dalam dunia peternakan biaya pakan mewakili 60–70% dari total biaya produksi ternak. Besaran biaya tersebut sebagian besar disebabkan biaya sumber protein. Sumber protein penting yang sering digunakan dalam bahan pakan adalah bungkil kedelai.

Kajian data dari Pusdatin (2018) menyatakan bahwa, konsumsi kedelai pada tahun 2013–2017 bervariasi, rata-rata sebesar 6,59 kg/kapita/tahun dan cenderung meningkat sebesar 8,39% per tahun. Sempat mengalami penurunan tajam tahun 2015 sebesar 44,58%, dari 7,13 kg/kapita/tahun di tahun 2014 menjadi 3,95 kg/kapita/tahun. Tahun 2017 konsumsi kedelai sebesar 8,78 kg/kapita/tahun, meningkat 47,50% dari tahun sebelumnya sebesar 5,95 kg/kapita/tahun.

Impor kedelai periode 2012-2017 juga mengalami peningkatan rata-rata 5,54% pertahun. Impor kedelai segar Indonesia pada tahun 2016-2017 didominasi oleh kedelai dari Amerika hingga 98% atau sebesar 2,5 juta ton. (Pusdatin, 2018). Sedangkan sumber protein penting berupa bungkil kedelai yang sering digunakan dalam bahan pakan, penggunaannya bersaing dengan produksi pangan (Masuda, 2009).

Padahal lahan pertanian yang dijadikan lahan untuk sumber pangan mengalami alih fungsi lahan. Tingginya laju konversi lahan sawah intensif menjadi lahan nonpertanian. Laju konversi lahan sawah ke nonsawah diperkirakan berkisar antara 96.512 ha/tahun (Mulyani et al. 2016) dan 110.160 ha/tahun (BPS 2003). Dari studi kasus di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Daulay (2016) mengungkap tingginya konversi lahan sawah menjadi perkebunan sawit disebabkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk bertanam sawit. Angka konversi ini jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan pemerintah untuk mencetak sawah baru yang hanya sekitar 20.000-30.000 ha/tahun (Ditjen PSP, 2013).

Sekitar 75% dari lahan yang terkonversi, beralih ke perumahan, terutama di Pulau Jawa (Sutomo, 2004). Di beberapa provinsi sentra produksi padi terjadi pula konversi lahan sawah menjadi perkebunan (Mulyani et al. 2016). Konversi lahan pertanian dapat menimbulkan dampak negatif, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial, politik dan lingkungan. Konversi lahan sawah menjadi lahan perumahan dan perkotaan merupakan ancaman serius yang bersifat tak dapat balik (irriversible), kumulatif dan progresif (Irawan 2005).

Tantangan ketersediaan lahan tidak hanya khas untuk Indonesia, tetapi juga tingkat dunia. Analisis oleh Lambin dan Meyfroidt (2011) menunjukkan bahwa menjelang tahun 2030 diperlukan antara 125 sampai 416 juta ha lahan untuk pertanian dan padang gembala, namun di sisi lain sekitar 48 sampai 100 juta ha lahan juga diperlukan untuk perkembangan perkotaan. Lebih jauh sekitar 30 sampai 87 juta ha lahan pertanian yang ada mengalami degradasi sehingga menurun produktivitasnya. Kebutuhan untuk berbagai penggunaan lahan ini akan menyebabkan lahan hutan semakin terdesak.

Terdesaknya bahan pangan yang diakibatkan oleh alih fungsi lahan juga mengakibat terus berkompetisinya bahan pangan dengan bahan pakan yang lambat laun pakan ternak berupa kedelai tersingkirkan, serta harga bahan pakan ini akan meningkat pesat. sehingga perlu mencari alternatif pakan dimasa depan yang tidak bersaing dengan bahan pangan.

 SOLUSI

Serangga sebagai Pakan

Sumber protein yang potensial sebagai pengganti bungkil kedelai adalah serangga. Akan tetapi permasalahan yang muncul adalah adanya persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa serangga bukanlah pakan yang layak sehingga mereka akan merasa kurang steril saat mereka mengkonsumsi produk ternak.Namun berbgai persepsi tersebut dimentahkan oleh berbagai penelitian oleh para ahli yang menyebut ”Serangga Untuk Pakan Masa Depan”.

Serangga mengandung protein tingkat tinggi dan produksinya memiliki jejak ekologis yang kecil (Van Huis, 2013). Di antara spesies serangga yang dipelihara secara massal, lalat Black Soldier Fly (BSF) Hermetia illucens, lalat House Fly (HF) Musca domestica dan ulat kuning Tenebrio molitor telah mendapat perhatian lebih karena mereka dapat mengubah sampah organik menjadi nutrisi berkualitas tinggi (Sharpan et al, 2019).

Studi terbaru menunjukkan bahwa tepung serangga dapat menjadi pengganti yang sangat baik dari tepung ikan atau bungkil kedelai dalam pakan ternak (Ongsongo et al, 2018). Serangga merupakan sumber makronutrien dan mikronutrien yang kaya (Frinke. 2017). Misalnya Larva BSF, mengandung protein tingkat tinggi (37-63%) dan lemak (20-40%) yang memiliki asam amino seimbang dengan asam lemak (Schiavone, et al. 2017). Menurut Akhtar dan Isman (2018) menyatakan bahwa, serangga adalah sumber mineral yang baik, seperti kalsium, besi, kalium, magnesium , fosfor dan seng serta vitamin termasuk niasin, vitamin B12, tiamin dan riboflavin.

Berdasar beberapa penelitian, ketika tepung larva BSF menggantikan kedelai dan tepung ikan dalam proporsi 10–56%, puyuh dan ayam broiler memiliki rasa, aroma, dan komposisi gizi daging yang memuaskan, yang menegaskan bahwa tepung larva BSF cocok untuk dimasukkan dalam pakan unggas (Cullere et al, 2018). Serangga juga telah diterapkan sebagai pakan ikan, merawat benih ikan nila Nil dengan tingkat penggantian tepung ikan yang berbeda dengan tepung BSF menghasilkan kinerja pertumbuhan dan konversi pakan yang serupa (Devic et al, 2018). Anak babi yang diberi makanan dengan tingkat 5-10% dari makanan larva BSF menunjukkan kinerja pertumbuhan yang memuaskan, dengan efek minimal pada profil darah (Baisa et al, 2019).

Ongsongo et al. (2018) juga melakukan penilitian dengan hasil, substitusi kedelai dan tepung ikan dengan bungkil BSF dalam pakan broiler menghasilkan tingkat konversi pakan yang lebih baik yang mengarah ke hasil yang lebih tinggi dengan masukan pakan yang lebih sedikit. Dalam kombinasi dengan biaya  lebih rendah untuk BSF dibandingkan tepung ikan dan bungkil kedelai. Pengembalian investasi 25% lebih tinggi saat menggunakan Larva BSF sebagai pakan.

Secara keseluruhan, dari berbagai penelitian diatas menunjukkan bahwa larva BSF adalah komponen yang cocok untuk sumber protein pada pakan ternak.

Kelestarian Lingkungan

Keuntungan serangga tidak hanya sebagai pakan ternak dimasa depan, akan tetapi serangga juga memilki dampak positif terhadap lingkungan. Serangga dapat secara efisien mengubah limbah organik bermutu rendah  menjadi protein berkualitas tinggi. Larva BSF dapat dibesarkan di sampah organik yang apabila tidak diberi Larva BSF, sampah organik tersebut hanya  akan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, yang akhir menyebabkan pencemaran lingkungan. Larva BSF mampu mereduksi 30 ton sampah menjadi 10 ton (pengurangan limbah 66%), yang disamping itu juga menghasilkan 930 kg biomassa kering. (Nana et al, 2019).

Menerapkan serangga dalam siklus nutrisi untuk produksi pakan adalah inovatif dan saat ini menerima banyak perhatian. Contoh penelitian ini menunjukan, produksi satu ton tepung larva HF dapat menggantikan 0,5 ton tepung ikan dan 0,5 ton bungkil kedelai. Hal ini mengakibatkan berkurangnya penggunaan lahan dan peningkatan penggunaan energi. Penggunaan lahan secara global berada di bawah tekanan karena bertambahnya permintaan pangan dunia. Maka dengan penggunaan serangga untuk pakan ternak mengurangi tekanan tersebut, sehingga mengurangi persaingan lahan antar produk pangan dengan produk pakan (Van Zanten et al, 2015).

 

KESIMPULAN

Serangga mempunyai peranan yang penting didalam memenuhi kebutuhan protein ataupun mineral yang dibutuhkan oleh ternak. Secara umum, serangga mengandung protein, lemak, nutrisi-nutrisi lain yang dibutuhkan untuk peningkatan produktivitas ternak. Sehingga dapat menjadi pengganti bungkil kedelai yang masih bersaing dengan produk pangan.

Serangga juga dapat dibudidayakan dengan lahan yang terbatas sehingga mengurangi kebutuhan lahan. Keuntungan lain dari serangga sebagai pakan ternak dimasa depan adalah pengurangan sampah sebesar 51-80%, hal tersebut dapat membantu pengurangan pencemaran lingkungan.

REKOMENDASI

Kedepannya perlu dipertimbangkan untuk mengeluarkan peraturan terkait dengan pemanfaatan serangga secara khusus, mulai dari proses budidaya, proses produksi, penyimpanan, dan dari sisi kesehatannya. Demikian juga perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait dengan budidaya serangga untuk tujuan komersial, seperti peningkatan kandungan gizinya.

Diperlukan juga suatu upaya promosi terhadap pakan berbahan serangga ini dan diversifikasi bahan pokok produk pakan. Sehingga diharapkan mampu membangun persepsi masyarakat terhadap serangga sebagai salah satu sumber protein yang berkualitas tinggi. Tindakan ini membutuhkan waktu, dan strategi promosi yang tepat, untuk membuat bahan pakan ini menjadi populer di berbagai tempat di dunia, khususnya di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Akhtar Y, Isman MB. 2018. Insects as an alternative protein source. In Proteins in Food Processing. Edited by Rickey YY. Woodhead Publishing Series in Food Science, Technology and Nutrition. 263-288.

BPS (Badan Pusat Statistik). 2003. Sensus pertanian. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

Biasato I, Renna M, Gai F, Dabbou S, Meneguz M, Perona G, Martinez S, Cristina A, Lajusticia B, Bergagna S et al. 2019. Partially defatted black soldier fly larva meal inclusion in piglet diets: effects on the growth performance, nutrient digestibility, blood profile, gut morphology and histological features. J Anim Sci Biotechnol. 10. http://dx.doi.org/10.1186/s40104- 019-0325-x.

Cullere M, Tasoniero G, Giaccone V, Acuti G, Marangon A, Dalle Zotte A. 2018. Black soldier fly as dietary protein source for broiler quails: meat proximate composition, fatty acid and amino acid profile, oxidative status and sensory traits. Animal. 12:640-647. http://dx.doi.org/10.1017/S1751731117001860.

Daulay AR, Putri EIK, Barus B, Noorachmat BP. 2016. Analisis faktor penyebab alih fungsi lahan sawah menjadi sawit di kabupaten tanjung jabung timur. Anal Kebijak Pertan. 14(1):1-15

Devic E, Leschen W, Murray F, Little DC. 2018. Growth performance, feed utilization and body composition of advanced nursing Nile tilapia (Oreochromis niloticus) fed diets containing black soldier fly (Hermetia illucens) larvae meal. Aquacult Nutr. 24:416-423 http://dx.doi.org/10.1111/anu.12573.

Ditjen PSP (Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian). 2013. Potensi alih fungsi lahan akibat tidak ditetapkan LP2B dalam RTRW kabupaten/kota. Bahan tayang Ditjen PSP. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

Finke M, Oonincx DGAB. 2017. Nutrient content of insects. In Insects as Food and Feed. From Production to Consumption. Edited by Van Huis A, Tomberlin JK. Wageningen Academic Publishers. 290-316.

Food and Agriculture Organization of The United Nations. 2013. Edible Insects: Future Prospects For Food and Feed Security. FAO Forestry Paper. 171.

Girsang, Pratiwi. 2018. Serangga, Solusi Pangan Masa Depan. Jurnal Pembangunan Perkotaan. 6:2. http://ejpp.balitbang.pemkomedan.go.id/index.php/JPP.\

Irawan B. 2005. Konversi lahan sawah: potensi dampak, pola pemanfaatannya dan faktor determinan. Forum Penelit Agro Ekon. 23(1):1-18.

Lambin E dan Meyfroidt P. 2011. Global land use change, economic globalization, and the looming land scarcity. PNAS. 108(9):3465±3472. doi: 10.1073/pnas.1100480108.

Masuda T, Goldsmith PD. 2009. World soybean production: area harvested, yield, and long-term projections. Int Food Agribus Manag. 12:143-162.

Mulyani A, Priyono A, Agus F. 2013. Chapters 24: Semiarid Soils of Eastern Indonesia: Soil Classification and Land Uses. Developments in Soil Classification, Landuse Planning and Policy Implications. London (UK): Springer.p449-466.

Mulyani A. 2016. Potensi ketersediaan lahan kering mendukung perluasan areal pertanian pangan. Dalam: Pasandaran E, Heriawan R, Syakir M, Editors. Sumberdaya lahan dan air, prospek pengembangan dan pengelolaan. Bogor(ID): IAARD Press.

Nana P, Kimpara JM, Tiambo CK, Tiogue CT, Youmbi J, Choundong B, Fonkou T. 2019. Black soldier flies (Hermetia illucens Linnaeus) as recyclers of organic waste and possible livestock feed. Int J Biol Chem Sci. 12:2004-2015.

Onsongo VO, Osuga IM, Gachuiri CK, Wachira AM, Miano DM, Tanga CM, Ekesi S, Nakimbugwe D, Fiaboe KKM. 2018. Insects for income generation through animal feed: effect of dietary replacement of soybean and fish meal with black soldier fly meal on broiler growth and economic performance. J Econ Entomol. 111:1966-1973. http://dx.doi.org/10.1093/jee/ toy118.

Pakpahan, Agus. 2018. Pergeseran Dalam Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index) 2000-2017: Implikasi Terhadap Kebijakan Pertanian, Pangan, Dan Kualitas Sumber Daya Manusia, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Pusdatin (Pusat Data dan Sistem Informasi). 2018. Outlook kedelai 2018. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian. Jakarta (ID).

Schiavone A, De Marco M, Martı´nez S, Dabbou S, Renna M, Madrid J, Hernandez F, Rotolo L, Costa P, Gai F et al. 2017. Nutritional value of a partially defatted and a highly defatted black soldier fly larvae (Hermetia illucens L.) meal for broiler chickens: apparent nutrient digestibility, apparent metabolizable energy and apparent ileal amino acid digestibility. J Anim Sci Biotechnol:8. http://dx.doi.org/10.1186/s40104-017-0181-5.

Shaphan Y Chia, Chrysantus M Tanga, Joop JA van Loon and Marcel Dicke. 2019. Insects for sustainable animal feed: inclusive business models involving smallholder farmers. Elsevier. 41:23–30. www.sciencedirect.com.

Sutomo S. 2004. Analisa Data Konversi dan Prediksi Kebutuhan Lahan. Hal 135-149 Dalam Hasil Round Table II Pengendalian Konversi dan Pengembangan Lahan Pertanian. Direktorat Perluasan Areal, Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Van Huis A. 2013. Potential of insects as food and feed in assuring food security. Annu Rev Entomol. 58:563-583. http://dx.doi. org/10.1146/annurev-ento-120811.

Van Zanten HH, Mollenhorst H, Oonincx DGAB, Bikker P, Meerburg BG, De Boer IJM. 2015. From environmental nuisance to environmental opportunity: housefly larvae convert waste to livestock feed. J Clean Prod . 102:362-369 http://dx.doi.org/ 10.1016/j.jclepro.2015.04.106.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

PENGALAMAN DITOLAK PTN (SNMPTN DAN SBMPTN)

KECENDERUNGAN MEMPERMALUKAN ORANG LAIN