Penyeselan terbesarku setelah resign kerja
Sore itu jogja menunjukan keromantisannya
Menjelang matahari terbenam
Mendung
dibumbui sedikit gerimis
dan teriakan dari ibu-ibu “teee-sate”. seakan
nadanya kurang tinggi ibu itu kembali berteriak “teeeeeee-sate”
langsung bergegaslah temanku untuk memanggil
ibu yang berteriak dan sambil menjunjung dagangannya diatas kepala. kebetulan juga
kami belum makan siang+makan malam (#anakkos)
Ibu penjual sate menurunkan dagangannya, aku
juga inget kalau temanku pernah cerita, kalau ibu penjual sate itu dari Madura
Temanku : “berapaan bu?”
Ibu penjual sate : “beli berapa saja dek,
terserah adek”
Temanku : “10rb ya bu, tanpa lontong”. Soalnya
masak sendiri, begitulah belanja anak kos, biar irit
Dengan teknik basa-basi yang sudah basi, aku
membuka obrolan
Aku : “ibu berasal dari mana?”
Ibu penjual sate : “dari Madura dek”
Aku : “Madura mana bu?”
Ibu penjual sate : “Sampang dek”
Aku : “berarti semmak sareng compo’en guleh bu
(berarti dekat dengan rumah saya bu), guleh derih Pamekasan (saya dari
Pamekasan)”
Ibunya terperanjat dengan muka heran
Percakapan kita dilanjutkan dengan bahasa
madura (tapi langsung aku translate biar tidak ribet nulis dua kali kayak
diatas)
Ibu penjual sate : “loh, ternyata saudara”. Istimewa
bukan? Baru ketemu sudah langsung dianggap saudara
Aku : “iya bu, saya baru disini. Ibu sudah
lama di jogja?”
Ibu penjual sate : “pantes baru liat dek. Saya
sudah 27 tahun dek, sampek punya 2 anak”
akhirnya kita ngobrol panjang lebar, sampai
ibunya curhat tentang keadaan beliau dan orang tua beliau. Ditengah cerita,
beliau bilang kalau beliau anak ke 8 dari 10 bersaudara. Sungguh produktif sekali
orang madura. hahaha
Sampailah pada obrolan akhir, karena
satenyapun sudah mateng
Ibu penjual sate : “ini punyamu dek? Atau
punya temennya adek”
Aku : “bukan bu, punya teman saya”. aku bilang
saja kalau itu punya temanku, karena aku tau gelagatnya bakal di imbuhi
(ditambahi)
Ibu penjual sate : “loh ini tak buatin
sekalian buat adek, tenang gratis kok”
Aku : “loh, tidak usah bu, saya sudah beli
lauk barusan bu”. Padahal sebenernya seneng banget ditawari sate gratis. tapi
kasian, karena tidak boleh memanfaatkan rasa persaudaraan hanya untuk
keuntungan pribadi
Ibu penjual sate : “bener dek? Kapan-kapan
kalau tidak punya lauk, panggil ibu ya”
Aku : “engghi bu, mator sakalangkong bu
(ucapan terima kasih dalam bahasa madura)”
Ibu penjual sate : “engghi lek, depadeh lek”.
Ibu itu pamit dan melanjutkan teriakannya yang
sempat reda saat membakar sate.
Komentar
Posting Komentar