Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

Gambar
Hampir semua orang yang aku temui, pasti nanyain gini "kenapa kamu resign? kan sudah bagus posisinya, kan gajinya sudah tinggi, kan kerjanya gak terlalu berat, kan, kan, dan kan-kan yang lain".  Aku selalu jawab template "masih pengen kuliah, soalnya kalau sudah ketua-an males mau kuliah lagi" Padahal jawaban sesungguhnya adalah aku mendekatkan diri dengan mimpi dan impianku di masa depan. Dimana dalam bayanganku, aku dimasa depan akan berpenghidupan dari bisnis, seminggu dua kali aku ngajar di universitas, dan akhir pekan menikmati hari dengan keluarga kecilku. Oleh karena itu aku memilih resign, karena dengan resign di akhir 2019. Aku bisa memulai bisnis atau bahasa kerennya sekarang "start up" di bidang lingkungan, yakni Bank Sampah Hamdalah.Bisnis ini merupakan salah satu bisnis yang paling memuaskan dari beberapa perjalanan bisnisku selama ini. Selain mendapatkan uang dari kegiatan bisnis tersebut (meskipun gak banyak), aku juga dapat membantu orang u...

HANGAT MADURA DI JOGJA

 Sore itu jogja menunjukan keromantisannya

Menjelang matahari terbenam

Mendung

dibumbui sedikit gerimis

dan teriakan dari ibu-ibu “teee-sate”. seakan nadanya kurang tinggi ibu itu kembali berteriak “teeeeeee-sate”

langsung bergegaslah temanku untuk memanggil ibu yang berteriak dan sambil menjunjung dagangannya diatas kepala. kebetulan juga kami belum makan siang+makan malam (#anakkos)

Ibu penjual sate menurunkan dagangannya, aku juga inget kalau temanku pernah cerita, kalau ibu penjual sate itu dari Madura

Temanku : “berapaan bu?”

Ibu penjual sate : “beli berapa saja dek, terserah adek”

Temanku : “10rb ya bu, tanpa lontong”. Soalnya masak sendiri, begitulah belanja anak kos, biar irit

 

Dengan teknik basa-basi yang sudah basi, aku membuka obrolan

Aku : “ibu berasal dari mana?”

Ibu penjual sate : “dari Madura dek”

Aku : “Madura mana bu?”

Ibu penjual sate : “Sampang dek”

Aku : “berarti semmak sareng compo’en guleh bu (berarti dekat dengan rumah saya bu), guleh derih Pamekasan (saya dari Pamekasan)”

Ibunya terperanjat dengan muka heran

 

Percakapan kita dilanjutkan dengan bahasa madura (tapi langsung aku translate biar tidak ribet nulis dua kali kayak diatas)

Ibu penjual sate : “loh, ternyata saudara”. Istimewa bukan? Baru ketemu sudah langsung dianggap saudara

Aku : “iya bu, saya baru disini. Ibu sudah lama di jogja?”

Ibu penjual sate : “pantes baru liat dek. Saya sudah 27 tahun dek, sampek punya 2 anak”

akhirnya kita ngobrol panjang lebar, sampai ibunya curhat tentang keadaan beliau dan orang tua beliau. Ditengah cerita, beliau bilang kalau beliau anak ke 8 dari 10 bersaudara. Sungguh produktif sekali orang madura. hahaha

 

Sampailah pada obrolan akhir, karena satenyapun sudah mateng

Ibu penjual sate : “ini punyamu dek? Atau punya temennya adek”

Aku : “bukan bu, punya teman saya”. aku bilang saja kalau itu punya temanku, karena aku tau gelagatnya bakal di imbuhi (ditambahi)

Ibu penjual sate : “loh ini tak buatin sekalian buat adek, tenang gratis kok”

Aku : “loh, tidak usah bu, saya sudah beli lauk barusan bu”. Padahal sebenernya seneng banget ditawari sate gratis. tapi kasian, karena tidak boleh memanfaatkan rasa persaudaraan hanya untuk keuntungan pribadi

Ibu penjual sate : “bener dek? Kapan-kapan kalau tidak punya lauk, panggil ibu ya”

Aku : “engghi bu, mator sakalangkong bu (ucapan terima kasih dalam bahasa madura)”

Ibu penjual sate : “engghi lek, depadeh lek”.

Ibu itu pamit dan melanjutkan teriakannya yang sempat reda saat membakar sate.

Begitulah kehangatan sosial orang madura, dimanapun bertemu obrolannya sama seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

PENGALAMAN DITOLAK PTN (SNMPTN DAN SBMPTN)

KECENDERUNGAN MEMPERMALUKAN ORANG LAIN