Penyeselan terbesarku setelah resign kerja
Karakter
identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri,
karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan yang
diterima lingkungan. Baik buruknya karakter manusia sudah menjadi bawaan sejak
lahir. Jika bawaannya baik, manusia akan berkarakter baik. Di sisi lain,
karakter seseorang bisa dibangun atau diupayakan. Sehingga pendidikan karakter
lebih bermakna untuk membawa manusia memiliki karakter yang lebih baik.
Dari pengertian
tersebut, dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak. Sehingga
karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia. Baik dalam rangka berhubungan
dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan
lingkunganya yang terwujud dalam pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan
berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, serta adat-istiadat.
Seni budaya yang dirancang berbasis aktivitas, dalam
sejumlah ranah seni budaya, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari dan seni
teater yang diangkat dari kekayaan seni dan budaya sebagai warisan budaya
bangsa. Pada proses kreasi dan ekspresi melalui ranah seni tertentu inilah yang
mampu untuk memunculkan karakter bangsa itu sendiri. Antara lain: menumbuhkan
rasa syukur kepada Tuhan, melatih kepekan estetis (cita rasa keindahan), kemandirian dalam berkarya seni, kejujuran
dalam berekspresi, tanggung jawab dan percaya diri, serta bangga untuk
menampilkan karyanya serta bangga terhadap keragaman budaya bangsa sendiri.
Salah satu seni yang dimiliki bangsa Indonesia adalah
Karapan sapi. Karapan sapi (bahasa Madura: Karapan sapèh) merupakan istilah
untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur.
Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu
(tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam
lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut
biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh
detik sampai satu menit.
Kerapan Sapi Madura sudah banyak dikenal oleh masyarakat
lokal, nasional bahkan internasional. Mereka rela datang dari jauh hanya ingin
menjadi saksi kehebatan pasangan sapi dan joki beradu kecepatan di arena balap
seperti alun-alun yang telah disiapkan sebelumnya. Terdapat beberapa macam
lomba kerapan sapi seperti Tingkat Desa, Tingkat Kecamatan, Tingkat Kabupaten
hingga Piala Presiden yang menjadi ajang prestisius bagi para pemilik sapi.
Oleh karena itu, penulis sangat tertarik untuk membahas Karapan sapi yang ada
di Pulau Madura.
Karapan sapi adalah salah satu bentuk tradisi yang mengandung perpaduan
antara kesenian, tradisi dan perlombaan. Di dalamnya terdapat unsur-unsur
seperti tokang tongkok (joki), Ambhin (pakaian kebesaran sapi yang membawa ciri
masing-masing daerah), Obhit (hiasan kepala yang memuat pesan spiritual),
Kaleles (media tunggangan joki) dan Anjar (helai kain yang menghiasi kaleles
yang selalu ganjil). Tradisi khas Madura ini sebagai suatu kombinasi dari
perayaan rakyat, hiburan, pertunjukan kesehatan ternak, dan pacuan sapi.
Karapan sapi yang lebih dikenal dengan sebutan kerraben sape merupakan
pacuan sepasang Sapi Madura jantan yang dipacu menggunakan satu set peralatan
yang disebut kaleles dan dikendalikan oleh seorang joki, Yang paling awal
sampai ke garis finis dianggap sebagai pemenang. Pemeliharaan Sapi Madura
umumnya dipelihara secara tradisional, namun untuk Sapi Karapan diperlukan
pemiliharaan yang lebih spesifik dan bibit jantan yang unggul untuk menunjang
performanya.
A. Sejarah Karapan Sapi
Berdasar cerita yang berkembang di masyarakat Madura, keberadaan kerapan
sapi tak bisa dilepaskan dari figur Kyai Ahmad Baidawi (yang dikenal dengan
sebutan Pangeran Katandur), salah seorang penyebar Islam di Madura. Konon, kyai
Baidawi menyebarkan Islam di Madura (utamanya di Sumenep) atas perintah Sunan
Kudus, salah seorang dari sembilan wali berpengaruh dalam penyebaran Islam di
tanah Jawa. Sebelum
berangkat ke Madura, Sunan Kudus memberi bekal kepada kyai Baidawi berupa dua
tongkol jagung (janggel) yang masih utuh. Setiba di Madura, beliau tidak
langsung berdakwah, melainkan mengajarkan pola bercocok tanam jagung. Yang
membuat masyarakat tertarik adalah cara bercocok tanam yang unik. Umur jagung
hanya 1 hari. Begitu jagung ditanam pagi hari, besoknya bisa langsung dipanen.
Sudah bisa diduga, masyarakat sangat antusias belajar bercocok tanam kepada
sang kyai. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh beliau untuk sambil
mengajarkan dasar-dasar Islam kepada mereka. Ketika menancapkan tongkat ke tanah harus didahului
dengan membaca basmalah. Pada saat memasukkan benih jagung ke tanah yang telah
dilubangi, harus diawali dengan membaca dua kalimah syahādat. Kemudian setelah
panen, harus dibarengi dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah Sang Maha
Pencipta. Untuk tujuan ini, kaum petani diajari cara melaksanaan ibadah salat
lima waktu. Demikian seterusnya, cara tersebut diulangulang sampai akhirnya
pemeluk Islam semakin bertambah.
Suatu ketika,
kyai Baidawi melaporkan keberhasilan misi dakwahnya kepada Sunan Kudus yang
telah mengutusnya. Atas keberhasilan tersebut, kyai Baidawi diperintahkan untuk
tinggal menetap di Madura meneruskan misi dakwahnya. Namun sebelum kembali ke
Madura, keduanya berdoa kepada Allah agar jagung yang ditanam tidak lagi
berumur 1 hari, melainkan 100 hari. Dan doa tersebut dikabulkan. Maka, setiba
kembali di Madura kyai Baidawi menjelaskan kepada masyarakat tentang perubahan
masa panen dari 1 hari menjadi 100 hari. Karena sudah merasakan manfaat tanaman
jagung, perubahan masa panen tidak menyurutkan semangat petani menamam jagung.
Semakin hari masyarakat yang bercocok tanam jagung terus bertambah. Maka
jadilah jagung sebagai makanan pokok orang Madura. Yang unik, jagung Madura
berbeda dengan jagung Jawa. Ukurannya kecil tapi manis, tahan iklim kering,
tidak peka pada serangan hama dan penyakit. Selain bijinya dipanen untuk
makanan pokok, bunga dan daunnya menjadi sumber makanan utama ternak sapi.
Dalam
perkembangan berikutnya, karena pengolahan tanah pertanian dengan tenaga
manusia dirasa kurang efektif, muncul ide kyai Baidawi untuk menggunakan tenaga
hewan, yaitu sapi. Caranya, sepasang sapi dilengkapi dengan
pangonong dan nangggeleh atau salageh, kemudian seorang petani—sambil memegang
ujung nanggeleh/salageh-- mengikuti dari belakang untuk membajak tanah-tanah
yang hendak ditanami. Cara seperti ini oleh orang Madura disebut asaka’ dan/asalageh.
Bagi para petani, mengolah tanah dengan cara baru ini cukup menyenangkan,
lebih-lebih jika diselingi dengan permainan yang menggembirakan dengan cara
mengadakan lomba adu lari sapi sambil me-nyaka’ sawah. Dengan cara ini,
betapapun banyaknya pekerjaan asaka’ yang harus diselesaikan, karena dikerjakan
sambil berlomba, para petani tak merasakan beratnya pekerjaan.
Bertani dengan menggunakan jasa sapi membuat
petani lebih cepat mengolah lahan dan hasil pertanianpun lebih banyak dari
sebelumnya. Dampaknya, kehidupan masyarakat semakin makmur. Untuk mensyukuri
hasil tani yang semakin melimpah, setiap pasca panen kyai Baidawi
menyelenggarakan “pesta panen” di sebuah alun-alun dengan hiburan lomba lari
sapi yang diiringi musik-musik tradisional. Momentum itu, oleh kyai Baidawi,
juga digunakan sebagai forum pembagian zakat hasil tani kepada yang berhak
(mustahiqqîn). Sejak itu, kerapan sapi menjadi tradisi turun temurun yang tetap
lestari hingga sekarang. Istilah ‘kerapan’ atau ‘karapan’ yang dipakai hingga
kini sebenarnya berasal dari kata ‘garapan’, karena pada awalnya perlombaan
sapi diadakan para petani sambil ‘menggarap’ sawahnya.
Maksud kyai
Baidawi menyelenggarakan kerapan sapi setiap pasca panen tidak hanya sebatas
menghibur para petani, melainkan juga memotivasi petani untuk meningkatkan
pemeliharaan ternak sapi. Ternyata benar, penggunaan tenaga sapi dalam bercocok tanam dan
diadakannya kerapan sapi setiap pasca panen secara tidak langsung merangsang
orang Madura beternak sapi. Makin lama orang Madura semakin banyak memelihara
sapi, sampai akhirnya hampir setiap keluarga memelihara sapi.
B. Jenis Karapan Sapi
Di Madura dijumpai beberapa macam “kerapan sapi” yang memberikan
klasifikasi kepada jenis dan kategori peserta karapan tersebut. Berbagai macam
karapan sapi itu sebagai berikut:
a.
Kerap Keni’ (Kerapan Kecil)
Kerapan jenis ini diadakan pada tingkat
kecamatan atau kewedanaan. Para peserta adalah yang berasal dari daerah yang
bersangkutan. Sapi kerap dari luar tidak diperbolahkan turut serta. Jarak
tempuh hanya 110 meter. Dalam kategori ini yang diutamakan adalah kecepatan dan
lurusnya. Kerap keni ini biasanya diikuti oleh sapi-sapi kecil dan baru
belajar. Pemenangnya merupakan peserta untuk mengikuti kerap raja.
b.
Kerap Rajha (Kerapan Besar)
Kerapan besar ini disebut juga kerap negara,
umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Ukuran lapangan 120
meter. Pesertanya adalah juara-juara kecamatan atau kewedanaan.
c.
Kerap Onjhangan (Kerapan Undangan)
Kerapan undangan adalah pacuan khusus yang
diikuti oleh peserta yang diundang baik dari dalam kabupaten maupun luar
kabupaten. Kerapan ini diadakan menurut waktu keperluan atau dalam acara
peringatan hari-hari tertentu.
d.
Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)
Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti
oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesdenan
diadakan di kota Pamekasan pada hari Minggu, merupakan acara puncak untuk
mengakhiri musim kerapan.
e.
Kerap jhar-ajharan (kerapan latihan)
Kerapan latihan tidak tertentu harinya, bisa
diadakan pada setiap hari selesai dengan keinginan pemilik atau pelatih
sapi-kerap itu. Pesertanya adalah sapi lokal.
C. Pelaksanaan Karapan Sapi
Sebelum
kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan, berparade agar
dikenal. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi karena
sudah ditambatkan, juga merupakan arena pamer akan keindahan pakaian/hiasan
sapi-sapi yang akan berlomba. Sapi-sapi itu diberi pakaian berwarna-warni dan
gantungan-gantungan genta di leher sapi berbunyi berdencing-dencing. Setelah
parade selesai, pakaian hias mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu
gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.
Maka dimulailah babak penyisihan, yaitu dengan menentukan klasemen peserta,
peserta biasanya pada babak ini hanya terpacu sekedar untuk menentukan apakah sapinya
akan dimasukkan “papan atas” atau “papan bawah”. Hal ini hanyalah merupakan taktik bertanding
antarpelatih untuk mengatur strategi. Selanjutnya dimulailah ronde penyisihan pertama, kedua, ketiga dan
keempat atau babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan memakai sistem
gugur. Sapi-sapi kerap yang sudah dinyatakan kalah tidak berhak lagi ikut
pertandingan babak selanjutnya.
Dalam mengatur taktik dan strategi bertanding ini masing-masing tim
menggunakan tenaga-tenaga trampil untuk mempersiapkan sapi-sapi mereka.
Orang-orang itu dikenal dengan sebutan:
a. Tukang Tongko’ : joki yang mengendalikan sapi pacuan;
b. Tukang Tambeng : orang yang menahan kekang
sapi sebelum dilepas;
c.
Tukang Gettak : orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba
sapi itu melesat bagaikan abak panah ke depan;
d. Tukang Tonja : orang yang bertugas menarik dan
menuntun sapi agar patuh pada kemauan pelatihnya;
e. Tukang Gubra : anggota rombongan yang bertugas
bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapinya dari tepi lapangan. Mereka
tidak boleh memasuki lapangan dan hanya sebagai suporter.
D. Filosofi Karapan Sapi
Nilai filofis yang terkandung dari karapan
sapi yang ada di Pulau Madura adalah:
a.
Posisi sapi kanan (panglowar) dan sapi kiri (pangdalem) yang harus berjalan
seimbang agar jalannya tetap “lurus”, agar manusia pun dapat berjalan lurus.
b.
Sebagai alat untuk memperkuat hubungan persaudaraan masyrakat madura.
c.
Dengan banyaknya orang dalam satu tim, menunjukan karakter bangsa yaitu
gotong royong.
d.
Serta adu kekuatan yang ditunjukan saat sapi berlari, menunjukan bahwa ada
semangat pantang menyerah serta kerja
keras yang disisipkan dalam setiap pacuannya.
Komentar
Posting Komentar