Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

Gambar
Hampir semua orang yang aku temui, pasti nanyain gini "kenapa kamu resign? kan sudah bagus posisinya, kan gajinya sudah tinggi, kan kerjanya gak terlalu berat, kan, kan, dan kan-kan yang lain".  Aku selalu jawab template "masih pengen kuliah, soalnya kalau sudah ketua-an males mau kuliah lagi" Padahal jawaban sesungguhnya adalah aku mendekatkan diri dengan mimpi dan impianku di masa depan. Dimana dalam bayanganku, aku dimasa depan akan berpenghidupan dari bisnis, seminggu dua kali aku ngajar di universitas, dan akhir pekan menikmati hari dengan keluarga kecilku. Oleh karena itu aku memilih resign, karena dengan resign di akhir 2019. Aku bisa memulai bisnis atau bahasa kerennya sekarang "start up" di bidang lingkungan, yakni Bank Sampah Hamdalah.Bisnis ini merupakan salah satu bisnis yang paling memuaskan dari beberapa perjalanan bisnisku selama ini. Selain mendapatkan uang dari kegiatan bisnis tersebut (meskipun gak banyak), aku juga dapat membantu orang u...

FILOSOFI KARAPAN SAPI MADURA


        Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ”karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain (watak). Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (kognitif), sikap (attitudes), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skill).

Karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri, karakteristik, atau sifat khas diri seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima lingkungan. Baik buruknya karakter manusia sudah menjadi bawaan sejak lahir. Jika bawaannya baik, manusia akan berkarakter baik. Di sisi lain, karakter seseorang bisa dibangun atau diupayakan. Sehingga pendidikan karakter lebih bermakna untuk membawa manusia memiliki karakter yang lebih baik.

Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak. Sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia. Baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkunganya yang terwujud dalam pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, serta adat-istiadat.

Seni budaya yang dirancang berbasis aktivitas, dalam sejumlah ranah seni budaya, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater yang diangkat dari kekayaan seni dan budaya sebagai warisan budaya bangsa. Pada proses kreasi dan ekspresi melalui ranah seni tertentu inilah yang mampu untuk memunculkan karakter bangsa itu sendiri. Antara lain: menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan, melatih kepekan estetis (cita rasa keindahan),  kemandirian dalam berkarya seni, kejujuran dalam berekspresi, tanggung jawab dan percaya diri, serta bangga untuk menampilkan karyanya serta bangga terhadap keragaman budaya bangsa sendiri.

Salah satu seni yang dimiliki bangsa Indonesia adalah Karapan sapi. Karapan sapi (bahasa Madura: Karapan sapèh) merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.

Kerapan Sapi Madura sudah banyak dikenal oleh masyarakat lokal, nasional bahkan internasional. Mereka rela datang dari jauh hanya ingin menjadi saksi kehebatan pasangan sapi dan joki beradu kecepatan di arena balap seperti alun-alun yang telah disiapkan sebelumnya. Terdapat beberapa macam lomba kerapan sapi seperti Tingkat Desa, Tingkat Kecamatan, Tingkat Kabupaten hingga Piala Presiden yang menjadi ajang prestisius bagi para pemilik sapi. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik untuk membahas Karapan sapi yang ada di Pulau Madura.

Karapan sapi adalah salah satu bentuk tradisi yang mengandung perpaduan antara kesenian, tradisi dan perlombaan. Di dalamnya terdapat unsur-unsur seperti tokang tongkok (joki), Ambhin (pakaian kebesaran sapi yang membawa ciri masing-masing daerah), Obhit (hiasan kepala yang memuat pesan spiritual), Kaleles (media tunggangan joki) dan Anjar (helai kain yang menghiasi kaleles yang selalu ganjil). Tradisi khas Madura ini sebagai suatu kombinasi dari perayaan rakyat, hiburan, pertunjukan kesehatan ternak, dan pacuan sapi.

Karapan sapi yang lebih dikenal dengan sebutan kerraben sape merupakan pacuan sepasang Sapi Madura jantan yang dipacu menggunakan satu set peralatan yang disebut kaleles dan dikendalikan oleh seorang joki, Yang paling awal sampai ke garis finis dianggap sebagai pemenang. Pemeliharaan Sapi Madura umumnya dipelihara secara tradisional, namun untuk Sapi Karapan diperlukan pemiliharaan yang lebih spesifik dan bibit jantan yang unggul untuk menunjang performanya.

A.  Sejarah Karapan Sapi

Berdasar cerita yang berkembang di masyarakat Madura, keberadaan kerapan sapi tak bisa dilepaskan dari figur Kyai Ahmad Baidawi (yang dikenal dengan sebutan Pangeran Katandur), salah seorang penyebar Islam di Madura. Konon, kyai Baidawi menyebarkan Islam di Madura (utamanya di Sumenep) atas perintah Sunan Kudus, salah seorang dari sembilan wali berpengaruh dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Sebelum berangkat ke Madura, Sunan Kudus memberi bekal kepada kyai Baidawi berupa dua tongkol jagung (janggel) yang masih utuh. Setiba di Madura, beliau tidak langsung berdakwah, melainkan mengajarkan pola bercocok tanam jagung. Yang membuat masyarakat tertarik adalah cara bercocok tanam yang unik. Umur jagung hanya 1 hari. Begitu jagung ditanam pagi hari, besoknya bisa langsung dipanen. Sudah bisa diduga, masyarakat sangat antusias belajar bercocok tanam kepada sang kyai. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh beliau untuk sambil mengajarkan dasar-dasar Islam kepada mereka. Ketika menancapkan tongkat ke tanah harus didahului dengan membaca basmalah. Pada saat memasukkan benih jagung ke tanah yang telah dilubangi, harus diawali dengan membaca dua kalimah syahādat. Kemudian setelah panen, harus dibarengi dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah Sang Maha Pencipta. Untuk tujuan ini, kaum petani diajari cara melaksanaan ibadah salat lima waktu. Demikian seterusnya, cara tersebut diulangulang sampai akhirnya pemeluk Islam semakin bertambah.

Suatu ketika, kyai Baidawi melaporkan keberhasilan misi dakwahnya kepada Sunan Kudus yang telah mengutusnya. Atas keberhasilan tersebut, kyai Baidawi diperintahkan untuk tinggal menetap di Madura meneruskan misi dakwahnya. Namun sebelum kembali ke Madura, keduanya berdoa kepada Allah agar jagung yang ditanam tidak lagi berumur 1 hari, melainkan 100 hari. Dan doa tersebut dikabulkan. Maka, setiba kembali di Madura kyai Baidawi menjelaskan kepada masyarakat tentang perubahan masa panen dari 1 hari menjadi 100 hari. Karena sudah merasakan manfaat tanaman jagung, perubahan masa panen tidak menyurutkan semangat petani menamam jagung. Semakin hari masyarakat yang bercocok tanam jagung terus bertambah. Maka jadilah jagung sebagai makanan pokok orang Madura. Yang unik, jagung Madura berbeda dengan jagung Jawa. Ukurannya kecil tapi manis, tahan iklim kering, tidak peka pada serangan hama dan penyakit. Selain bijinya dipanen untuk makanan pokok, bunga dan daunnya menjadi sumber makanan utama ternak sapi.

Dalam perkembangan berikutnya, karena pengolahan tanah pertanian dengan tenaga manusia dirasa kurang efektif, muncul ide kyai Baidawi untuk menggunakan tenaga hewan, yaitu sapi. Caranya, sepasang sapi dilengkapi dengan pangonong dan nangggeleh atau salageh, kemudian seorang petani—sambil memegang ujung nanggeleh/salageh-- mengikuti dari belakang untuk membajak tanah-tanah yang hendak ditanami. Cara seperti ini oleh orang Madura disebut asaka’ dan/asalageh. Bagi para petani, mengolah tanah dengan cara baru ini cukup menyenangkan, lebih-lebih jika diselingi dengan permainan yang menggembirakan dengan cara mengadakan lomba adu lari sapi sambil me-nyaka’ sawah. Dengan cara ini, betapapun banyaknya pekerjaan asaka’ yang harus diselesaikan, karena dikerjakan sambil berlomba, para petani tak merasakan beratnya pekerjaan.

Bertani dengan menggunakan jasa sapi membuat petani lebih cepat mengolah lahan dan hasil pertanianpun lebih banyak dari sebelumnya. Dampaknya, kehidupan masyarakat semakin makmur. Untuk mensyukuri hasil tani yang semakin melimpah, setiap pasca panen kyai Baidawi menyelenggarakan “pesta panen” di sebuah alun-alun dengan hiburan lomba lari sapi yang diiringi musik-musik tradisional. Momentum itu, oleh kyai Baidawi, juga digunakan sebagai forum pembagian zakat hasil tani kepada yang berhak (mustahiqqîn). Sejak itu, kerapan sapi menjadi tradisi turun temurun yang tetap lestari hingga sekarang. Istilah ‘kerapan’ atau ‘karapan’ yang dipakai hingga kini sebenarnya berasal dari kata ‘garapan’, karena pada awalnya perlombaan sapi diadakan para petani sambil ‘menggarap’ sawahnya.

       Maksud kyai Baidawi menyelenggarakan kerapan sapi setiap pasca panen tidak hanya sebatas menghibur para petani, melainkan juga memotivasi petani untuk meningkatkan pemeliharaan ternak sapi. Ternyata benar, penggunaan tenaga sapi dalam bercocok tanam dan diadakannya kerapan sapi setiap pasca panen secara tidak langsung merangsang orang Madura beternak sapi. Makin lama orang Madura semakin banyak memelihara sapi, sampai akhirnya hampir setiap keluarga memelihara sapi.

B. Jenis Karapan Sapi

Di Madura dijumpai beberapa macam “kerapan sapi” yang memberikan klasifikasi kepada jenis dan kategori peserta karapan tersebut. Berbagai macam karapan sapi itu sebagai berikut:

a.    Kerap Keni’ (Kerapan Kecil)

Kerapan jenis ini diadakan pada tingkat kecamatan atau kewedanaan. Para peserta adalah yang berasal dari daerah yang bersangkutan. Sapi kerap dari luar tidak diperbolahkan turut serta. Jarak tempuh hanya 110 meter. Dalam kategori ini yang diutamakan adalah kecepatan dan lurusnya. Kerap keni ini biasanya diikuti oleh sapi-sapi kecil dan baru belajar. Pemenangnya merupakan peserta untuk mengikuti kerap raja.

b.    Kerap Rajha (Kerapan Besar)

Kerapan besar ini disebut juga kerap negara, umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Ukuran lapangan 120 meter. Pesertanya adalah juara-juara kecamatan atau kewedanaan.

c.    Kerap Onjhangan (Kerapan Undangan)

Kerapan undangan adalah pacuan khusus yang diikuti oleh peserta yang diundang baik dari dalam kabupaten maupun luar kabupaten. Kerapan ini diadakan menurut waktu keperluan atau dalam acara peringatan hari-hari tertentu.

d.    Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)

Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesdenan diadakan di kota Pamekasan pada hari Minggu, merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.

e.    Kerap jhar-ajharan (kerapan latihan)

Kerapan latihan tidak tertentu harinya, bisa diadakan pada setiap hari selesai dengan keinginan pemilik atau pelatih sapi-kerap itu. Pesertanya adalah sapi lokal.

C. Pelaksanaan Karapan Sapi

Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan, berparade agar dikenal. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi karena sudah ditambatkan, juga merupakan arena pamer akan keindahan pakaian/hiasan sapi-sapi yang akan berlomba. Sapi-sapi itu diberi pakaian berwarna-warni dan gantungan-gantungan genta di leher sapi berbunyi berdencing-dencing. Setelah parade selesai, pakaian hias mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.

Maka dimulailah babak penyisihan, yaitu dengan menentukan klasemen peserta, peserta biasanya pada babak ini hanya terpacu sekedar untuk menentukan apakah sapinya akan dimasukkan “papan atas” atau “papan bawah”. Hal ini hanyalah merupakan taktik bertanding antarpelatih untuk mengatur strategi. Selanjutnya dimulailah ronde penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan memakai sistem gugur. Sapi-sapi kerap yang sudah dinyatakan kalah tidak berhak lagi ikut pertandingan babak selanjutnya.

Dalam mengatur taktik dan strategi bertanding ini masing-masing tim menggunakan tenaga-tenaga trampil untuk mempersiapkan sapi-sapi mereka. Orang-orang itu dikenal dengan sebutan:

a.  Tukang Tongko’ :  joki yang mengendalikan sapi pacuan;

b.  Tukang Tambeng : orang yang menahan kekang sapi sebelum dilepas;

c.   Tukang Gettak : orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba sapi itu melesat bagaikan abak panah ke depan;

d.  Tukang Tonja : orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi agar patuh pada kemauan pelatihnya;

e.  Tukang Gubra : anggota rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapinya dari tepi lapangan. Mereka tidak boleh memasuki lapangan dan hanya sebagai suporter.

D. Filosofi Karapan Sapi

Nilai filofis yang terkandung dari karapan sapi yang ada di Pulau Madura adalah:

a.    Posisi sapi kanan (panglowar) dan sapi kiri (pangdalem) yang harus berjalan seimbang agar jalannya tetap “lurus”, agar manusia pun dapat berjalan lurus.

b.    Sebagai alat untuk memperkuat hubungan persaudaraan masyrakat madura.

c.    Dengan banyaknya orang dalam satu tim, menunjukan karakter bangsa yaitu gotong royong.

d.    Serta adu kekuatan yang ditunjukan saat sapi berlari, menunjukan bahwa ada semangat pantang menyerah  serta kerja keras yang disisipkan dalam setiap pacuannya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

PENGALAMAN DITOLAK PTN (SNMPTN DAN SBMPTN)

KECENDERUNGAN MEMPERMALUKAN ORANG LAIN