Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

Gambar
Hampir semua orang yang aku temui, pasti nanyain gini "kenapa kamu resign? kan sudah bagus posisinya, kan gajinya sudah tinggi, kan kerjanya gak terlalu berat, kan, kan, dan kan-kan yang lain".  Aku selalu jawab template "masih pengen kuliah, soalnya kalau sudah ketua-an males mau kuliah lagi" Padahal jawaban sesungguhnya adalah aku mendekatkan diri dengan mimpi dan impianku di masa depan. Dimana dalam bayanganku, aku dimasa depan akan berpenghidupan dari bisnis, seminggu dua kali aku ngajar di universitas, dan akhir pekan menikmati hari dengan keluarga kecilku. Oleh karena itu aku memilih resign, karena dengan resign di akhir 2019. Aku bisa memulai bisnis atau bahasa kerennya sekarang "start up" di bidang lingkungan, yakni Bank Sampah Hamdalah.Bisnis ini merupakan salah satu bisnis yang paling memuaskan dari beberapa perjalanan bisnisku selama ini. Selain mendapatkan uang dari kegiatan bisnis tersebut (meskipun gak banyak), aku juga dapat membantu orang u...

CAROK CARA ORANG MADURA MEMPERTAHANKAN HARGA DIRI

     


        


        

        Kearifan lokal tumbuh dan berkembang di setiap daerah bersamaan dengan budaya lokal yang terus dipelihara, dipertahankan, dan dilestarikan oleh masyarakatnya. Di dalamnya terdapat muatan lokal, bersisi nilai-nilai yang menjadi identitas dan pedoman perilaku etnik.

Kearifan lokal sendiri mempunyai makna yaitu gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya (Sartini, 2004). Berdasarkan makna ini, kearifan lokal akan dapat menjadi pedoman masyarakat setempat untuk dapat memajukan daerahnya tanpa ada kekerasan dan paksaan. Masyarakat akan secara sukarelah mengikuti karena kearifan lokal ini adalah sesuatu yang baik untuk diikuti. Namun, ada pendapat lain dari Ayatrohaedi yang mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri . Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Beberapa pakar budaya seperti I Ketut Gobyah mengatakan bahwa kearifan lokal adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Sedangkan Kearifan lokal menurut Sartini adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu lama dan bahkan melembaga.  Sedangkan Suharti juga memberikan definisi kearifan lokal merupakan kearifan lingkungan yang ada dalam masyarakat di suatu tempat atau daerah sebagai warisan nenek moyang. Suhartini juga mengatakan bahwa kearifan lokal tidaklah sama antar daerah satu dengan daerah lainnya karena kearifan lokal sangat dipengaruhi oleh tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda, sehingga pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan yang baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial.

Berdasarkan dari pemahaman tentang kearifan lokal tersebut, maka kearifan lokal yang ada di Madura sangatlah berbeda dengan kearifan lokal dengan daerah lainnya. Masyarakat Madura kita kenal dengan budaya yang khas, unik, stereotipika dan stigmatik yang merupakan niliai-nilai cultural yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-harinya. Sebagai masyarakat pesisir dengan pekerjaan nelayan, kekhususan cultural ini tampak pada ketaatan, ketundukan dan kepasaraan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan).

Streotipe masyarakat Madura yang kental dikenal oleh masyarakat di luar Madura adalah streotipe yang menyatakan masyarakat Madura itu keras, khususnya pada daerah Pamekasan. Persepsi tentang masyarakat Madura yang keras ini, jika diperhatikan timbul ketika ada kejadian Carok antar individu yang memakan nyawa seseorang, hal itu berdampak negatif bagi masyarakat luar Madura, mereka menganggap masyarakat Madura keras dalam arti membunuh itu di anggap biasa, padahal perlu diketahui bahwa makna carok itu tidak seperti yang dipersepsikan kebanyakan orang luar Madura.

Carok berasal dari bahasa Kawi Kuno yang berarti Perkelahian. Secara harfiah bahasa Madura, Carok bisa diartikan Ecacca erok-orok (dibantai/mutilasi). Menurut D.Zawawi Imron seorang budayawan berjuluk Clurit Emas dari Sumenep, Carok merupakan satu pembauran  dari budaya yang tidak sepenuhnya asli dari Madura. Carok merupakan putusan akhir atau penyelesaian akhir sebuah permasalahan yang tidak bisa diselesaikan secara baik-baik atau musyawarah dimana didalamnya terkandung makna mempertahankan harga diri.

Carok juga selalu identik dengan pembunuhan 7 turunan atas nama kehormatan. Tembeng Pote Matah, Angoan Pote Tolang (dari pada putih mata lebih baik putih tulang=dari pada menanggung malu, lebih baik mati atau membunuh). Dendam yang mengatasnamakan Carok ini bisa terus berlanjut hingga anak cucunya. Ibarat hutang darah harus dibayar darah.

Carok juga dilakukan demi mempertahankan harga diri. Misalnya istri diambil orang, maka carok merupakan putusan atau penyelesaian akhir yang akan dilakukan. Mereka akan saling membunuh satu dengan yang lain. Dan uniknya, bagi keluarga yang mengambil istri orang, maka jika dia terbunuh, tak satupun keluarga korban akan menuntut balas pembunuhan tersebut karena mereka memandang malu jika keluarganya sampai mengambil istri orang. Namun sebaliknya, apabila yang terbunuh adalah pihak yang punya istri, maka yang terjadi akan muncul dendam 7 turunan.

Pelaku Carok merupakan pelaku pembunuhan yang jantan atau sportif. Jika mereka telah membunuh, maka ia akan datang ke kantor polisi dan melaporkan dirinya bahwa ia telah membunuh orang. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pembunuh kepada masyarakat sekaligus sebagai bentuk memohon perlindungan hukum.

        Makanya ada peribahasa dikalangan orang madura “angu’an Pote Tolang katembang Pote Matah” (Lebi Baik putih Tulang daripada Putih Mata). Artinya lebih baik meninggal daripada harga dirinya diinjak-injak.




DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi, Kepribadian Budaya Bangsa, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986, hlm 18-19.

Sartini, Jurnal Filsafat UGM, Agustus 2004, Jilid 37 nomor 2, hlm 111-112.

Suharti dalam prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009. hlm B-206

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyeselan terbesarku setelah resign kerja

PENGALAMAN DITOLAK PTN (SNMPTN DAN SBMPTN)

KECENDERUNGAN MEMPERMALUKAN ORANG LAIN